Blog post

Apa Saja Pro dan Kontra Konsep Open Office

09/06/2022Nadine K

Hi Klobbers!

Dulu ketika kita membayangkan sebuah kantor pasti gambar yang dibayangkan adalah deretan kubikel yang satu-satunya berisi karyawan di dalam dunia kecilnya masing-masing. Namun, seiring berjalannya waktu, ada tren baru yang muncul untuk tata ruang kantor. Tren yang dipelopori oleh industri kreatif dan startup ini menghilangkan kubikel dan tembok-tembok pembatas hingga visibilitas tinggi bagi semua karyawan. Konsep open office perlahan mengambil alih banyak tempat kerja, tetapi apakah itu benar-benar yang terbaik untuk karyawan? Mari kita lihat pro dan kontranya.

PRO

Komunikasi dan Kerjasama Lebih Baik

Ketika kantor tidak memiliki penghalang fisik, karyawan lebih mungkin untuk berkomunikasi satu sama lain dan bekerja sebagai sebuah tim. Komunikasi ini meningkatkan kolaborasi antara berbagai tingkat karyawan mulai dari karyawan baru hingga tingkat atas. Pengaturan ini juga kondusif untuk kreativitas, saling mendukung, dan menciptakan rasa kebersamaan.

Estetika Lebih Menyenangkan

Open office memiliki garis-garis bersih dan suasana trendi yang tidak dimiliki oleh kantor ber-kubikel. Kubikel bisa membuat kantor terasa lebih kecil dan lebih sesak, sedangkan ruang terbuka bisa terasa besar dan bebas. Suasana sebenarnya sangat penting untuk produktivitas sebuah tim. Berada di tempat yang estetis dapat memotivasi karyawan dan membantu menjaga kesehatan mental dan fisik.

Tidak ada Pembatas

Open office menghilangkan hambatan antara karyawan dan supervisor. Dengan tiadanya kantor pribadi yang tertutup, manajer merasa lebih mudah didekati. Tanpa hambatan fisik, bahkan pendiri dari perusahaan dapat bekerja pada level yang sama dengan karyawan terbarunya. Berbagai unit kerja yang jarang berinteraksi dalam hal pekerjaannya tetap dapat berinteraksi secara sosial dengan konsep open office. Setiap orang akan merasa seperti bagian dari tim kohesif yang lebih besar.

KONTRA

Distraksi

Dengan begitu banyak visibilitas dan tidak ada pembatas para karyawan bisa saling melihat dan mendengar semua aktivitas rekan kerjanya. Kebiasaan dan gerak-gerik kecil para rekan kerja juga akan lebih kelihatan dan menarik perhatian, hingga mengganggu pekerjaan. Berbicara di telepon atau meeting online pun juga cenderung lebih sulit, karena adanya keperluan untuk mencari tempat yang tenang dan memindahkan laptop dan barang-barang lainnya ke sana.

Kurangnya Privasi

Seperti disebutkan sebelumnya panggilan telepon pribadi tanpa seseorang yang mendengar sulit dilakukan di open office tetapi kurangnya penghalang juga berarti bahwa kadang-kadang barang-barang pribadi satu orang dapat menyebar ke ruang kerja orang lain. Selain itu, kurangnya pemisahan juga memberi atasan kemampuan untuk mengawasi karyawan. Hal ini tentu menguntungkan bagi atasan, namun bisa juga menjadi kontra bagi karyawan yang merasa cemas selalu diawasi.

Stres

Karena para supervisor dan rekan kerja dapat melihat semua yang mereka lakukan, karyawan mungkin merasa seolah-olah mereka perlu harus tampil produktif. Hal ini menyebabkan mereka mulai lebih banyak melakukan tugas, yang sering menyebabkan frustasi dan ketidakefektifan. Visibilitas ini  juga dapat membuat seorang pekerja merasa paranoid bahwa selalu ada seseorang yang mengamatinya dari belakang.

Ada banyak manfaat besar dengan konsep open office. Layoutnya bagus untuk pekerja freelance yang terbiasa bekerja dari rumah. Jika perusahaanmu ingin mencoba memproyeksikan citra organisasi yang muda dan keren, open office adalah cara yang bagus untuk mendapatkan in. Di sisi lain, ada juga banyak hal yang para karyawan kehilangan dari tata ruang ini, terutama privasi. Bagaimana menurutmu, Klobbers? Apakah kamu lebih suka kantor kubikel atau open office?

 

sumber

 

Berikan Komentar

Your email address will not be published.