Blog post

Tantangan Perempuan untuk Melesat dan Sukses

13/05/2022Kontributor Blog by Klob

Ditulis oleh: Susana Febryanty Emelda Sondang Bertuah
(Klik untuk melihat Profil Klob)

Sejak dilahirkan, ada berbagai aturan dan tuntutan yang diletakkan pada seorang perempuan. Bahkan, setelah dewasa pun, tak sedikit perempuan yang terkungkung oleh budaya-budaya lampau yang menentang keinginanan perempuan untuk menunjukkan eksistensi diri mereka di dunia nyata. Akankah hal tersebut kita biarkan terus berlanjut? 

Terlahir menjadi perempuan menghadirkan banyak konsekuensi yang tak mudah untuk dijalani. Berbagai aturan dan tuntutan dari masyarakat yang seolah menggiring penggambaran idealisme perempuan sebagai sosok yang lemah lembut dan penurut. Perempuan dianggap sebagai “ratu” dalam rumah tangga  yang wajib mengurusi segala tetek bengek yang ada di kawasan rumah tangganya sendiri. Akibatnya, seluruh waktu perempuan telah tersita untuk urusan domestik 

Kondisi semacam ini yang kemudian menimbulkan hilangnya minat perempuan untuk mengaktualisasi diri dan membuat si perempuan semakin terkungkung. Bahkan, tak sedikit perempuann yang kemudian menganggapnya sebagai sebuah kewajaran dan menikmati keadaan tersebut. Maka tak heran, jika di suatu kesempatan pertemuan warga di lingkup terkecil, perempuan lebih memilih untuk mewakilkannya pada suami atau saudara lelakinya. Padahal momen tersebut dapat menjadi kesempatan emas bbagi perempuan untuk menyuarakan keresahan atau unek-uneknya di lingkungan yang lebih luas.  

Kenyataan Pahit

Sebuah pepatah mengatakan bahwa, “Di balik kekuksesan seorang pria, ada perempuan hebat di belakangnya.” Kalimat tersebuat seolah-olah hendak mengangkat peran perempuan sebagai figur pendukung utama yang mendorong seorang pria untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam hidupnya. Namun, pepatah itu dapat pula dimaknai sebagai cara pandang masyarakat yang masih memandang posisi perempuan yang ideal adalah di belakang pria. 

Bahkan, hingga saat ini, masih ada saja masyarakat kita yang memandang sebelah mata akan kemampuan perempuan untuk berkarya dan memimpin. Tak heran jika kemudian laki-laki lebih berkemungkinan untuk dipilih menjadi ketua atau pemimpin sebuah organisasi maupun kelembagaan. Hal ini dikarenakan adanya pandangan yang menilai laki-laki lebih pantas dipilih karena dianggap pintar. Sementara itu, sepintar apa pun seorang perempuan, kinerjanya masih saja diragukan. 

Budaya patriarki yang mengakar di masyarakat kita menjadi persoalan yang menantang perempuan yang menunjukkan eksistensi dirinya, termasuk di dunia kerja. Budaya patriarki yang mengagungkan kaum pria pria dan memarginalkan perempuan menimbulkan kesenjangan dan ketidakadilan gender yang berpengaruh ke berbagai aspek kehidupan masyarakat kita. Kultur patriaki seakan membelenggu perempuan dengan pandangan bahwa perempuan hanya pantas untuk mengurus sektor domenstik (rumah tangga) sedangkan lelaki berhak untuk tampil di ranah publik. 

Pandangan lawas semacam itu pula yang kemudian turut mempengaruhi perspektif atau cara pandang perempuan terhadap dirinya sendiri dan perempuan lain sebagaimana cara pandang patriarki memandang diri mereka sebagai seorang perempuan. Ditambah lagi, pemberian akses dan partisipasi perempuan untuk menjalankan tanggung jawab sosialnya sebagai manusia rendah. Akibatnya potensi besar yang dimiliki oleh perempuan tak dapat berkontribusi di sektor publik sehingga masyarakat pun tak dapat merasakan manfaat dari kemampuan yang dimiliki oleh perempuan tersebut. 

Kesadaran untuk Berdaya

Emansipasi yang digaungkan oleh Kartini sebenarnya sebuah pemikiran yang seharusnya terus diperjuangkan oleh perempuan. Karena pada dasarnya Kartini tak hanya menginginkan pendidikan tinggi bagi kaum perempuan. Beliau pastinya berharap perempuan tak lagi hanya berada di belakang punggung pria. Tapi lebih dari itu, perempuan diharapkan dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya untuk menjadi pribadi yang bermanfaat di masyarakat. 

Oleh karena itu, kesadaran sosial untuk merubah budaya-budaya lawas yang patriakis dan menindas perlu dihadirkan dalam diri perempuan itu sendiri. Sangat perlu bagi perempuan untuk memberdayakan dirinya yaitu dengan mengidentifikasi dan menilai keadaan dirinya sendiri serta merencanakan dan mengevaluasi segala kegiatan yang dilakukannya sehingga ia sebagai manusia  dapat hidup secara layak dan mandiri. Untuk melakukan perubahan tersebut bisa dilakukan dengan menghadirkan kesadaran mengenai kesetaraan gender dimulai dari lingkup keluarga. Kerja sama bapak dan ibu dalam berbagai pekerjaan rumah tangga, dan memberikan kesempatan bagi perempuan untuk melakukan aktivitas di luar rumah tentunya akan menumbuhkan kesadaran sosial akan keadilan dan kesetaraan gender di dalam keluarga itu sendiri. 

Seperti kata pepatah yang berkata, “Tak ada makan malam yang gratis”. Demikitan pula dengan kesuksesan yang diidamkan banyak orang. Dan, kita perlu menyadari tantangan dan hambatan akan selalu datang menghantam perjalanan kita sebagai seorang perempuan. Meski demikian, tak ada impian yang tak dapat diwujudkan jika kita mau berjuang untuk meraihnya. Yang perlu kita lakukan hanyalah terus berjuang untuk meraih cita-cita dan impian kita. Untuk bisa mencapai posisi yang setara dengan laki-laki di dunia pekerjaan, perempuan harus bekerja ekstra lebih keras dari kaum lelaki. 

Sangat pernting bagi perempuan untuk selalu menempa diri dan meningkatkan kapasitas pengetahuannya. Sehingga para perempuan akan lebih percaya diri untuk berpartisipasi menyuarakan aspirasinya dan menunjukkan kualitas dirinya. Dengan demikian, perempuan akan mampu bersinergi dengan kaum pria untuk menjadi agen perubahan menuju masyarakat yang bertolerasi dan saling menghargai sesama manusia.

Berikan Komentar

Your email address will not be published.