Blog post

Cerita Singkat: Lenyapnya Amplop Pembawa Rezeki

25/03/2022Kontributor Blog by Klob

Ditulis oleh: Luthfan Maulana
(Klik untuk melihat Profil Klob)

”Uh, senang sekali pagi ini, aku dibeli seseorang penuh ceria.”

Dibawanya daku dari etalase, menuju tangan penuh ketulusan malaikat pencari rezeki. Daku berdoa, semoga diriku bisa bermanfaat bagi manusia, malaikat, atau iblis sekalipun.

Penuh harap dan semangat terlihat jelas dari sang malaikat,-menurutku raut mukanya lebih mirip malaikat, ketimbang manusia apalagi iblis. Bersyukurnya diriku Tuhan.

la menulis secarik kertas, dengan tangan penuh sinarnya, dengan harapan yang tak kunjung padam dari matanya. Indah sekali Tuhan pemandangan pagi ini, tidak seperti pagi-pagi kemarin yang hanya bisa melihat benda-benda mati di sekelilingku. Ya walau mungkin aku pun benda mati, atau aku hidup tapi merasa mati? Entahlah, itu tak penting, yang terpenting tujuan hidupku sekarang,-eh hanya ingin bermanfaat untuk malaikat di depanku ini.

Setengah jam berlalu, ia akhirnya selesai dengan tulisannya, rapi, harum, tiada tara nikmat ini Tuhan.

Kemudian tibalah saatnya, mulutku dibukanya oleh jemari kecil nan mungil indahnya malaikat ini, bergetar hatiku rasanya ingin memberontak, bukan karena menolak, lebih ke penerimaan yang tiada tara besarnya dariku.

la memasukkan kertas demi kertas ke dalamku sampai tubuhku terasa penuh. “Tuhan!! Akhirnya aku bermanfaat untuk malaikat itu!” Sontak diriku berteriak, tak peduli ia mendengarnya atau tidak.

Setelah satu menit, akhirnya selesai juga dia memasukkan kertas-kertas ke dalam tubuhku dan mengancingkan mulutku kembali. Tak pernah selama aku hidup,-eh merasakan bahagia seperti ini, sungguh Tuhan, terima kasih ku ucapkan padamu.

Keesokan paginya…

”Huaaaahhh… Sudah pagi lagi saja. Tugasku berikutnya akan membahagiakan dia semoga terlaksana, karena aku juga mau membalas budi atas kebahagiaan yang kemarin dia sang malaikat berikan.”

Dia memasukkan ku ke alat yang ia namai tas, bentuknya besar sekali, sungguh pertama kali aku melihatnya. Gelap didalamnya, aku tak sanggup sebenarnya, namun aku paksa demi dia sang malaikat yang ingin aku bahagiakan.

Satu jam aku didalamnya, sudah terang sepertinya matahari. Terik juga. Kini ia berada didepan sebuah gedung besar. Mengintipnya aku dari celah yang sedikit terbuka karena ia baru sedikit membuka mulut tas nya itu.

Mengobrolnya dia dengan seseorang yang ia sebut dengan ”Pak”. Setelah selang beberapa menit, sedihnya diriku, karena ia menyerahkan ku dengan seseorang yang ia sebut ”Pak” itu.

la berlalu dengan sepeda motornya meninggalkanku dan orang yang disebut “Pak” ini perlahan semakin kencang dan menjauh entah kemana, ia tak berpamitan, hanya saja ia tadi membisikkanku dengan ucapan rendah. “Bismillah” ucapnya sebelum menyerahkan ku kepada “Pak.”

Sedih sekali sebenarnya diriku, namun kuterima karena ini pasti keputusan terbaiknya. Lagi pula pasti ini babak terakhir agar aku benar-benar bisa membalas budi atas nikmat yang ia berikan padaku kemarin.

Namun kenaasan yang aku terima, kenapa Tuhan?

Padahal malaikat itu orang yang baik,-eh gimana?

Namun kenapa aku tidak bisa membalas kebaikannya? Kini aku hanya diletakkan di barisan sebuah bak pembuangan sampah bersama “teman-teman” ku yang akupun tak mengenal mereka sama sekali.

Huffft…. Bagaimanapun, inilah takdirku, Tuhan, aku terima apa yang ditakdirkanmu padaku, namun aku berdoa, bahagiakanlah dia sang malaikat pencari rejeki, jadikanlah ia malaikat pemberi rejeki suatu hari kelak, dan limpahkan hal-hal bermanfaat lainnya agar ia bisa menjemput rejekinya. Aku akan menukarkan semua kebahagiaanku dengan itu, aku siap Tuhan, aku siap.

Berikan Komentar

Your email address will not be published.